Rabu, 08 Agustus 2012

Koleksi Foto Kota Ambon Tempo Doeloe (Bagian II)

Tampayang !!!

Dear Basudara,,,, pada kesempatan ini akan saya share kembali koleksi foto-foto Kota Ambon tempo doeloe yang kedua kalinya. Masih banyak lagi koleksi fotonya jadi akan ada bagian lanjutannya. Semoga foto-foto ini bisa mengobati rindu atas tanah Maluku yang Manise dan membuat basudarara semua semakin cinta dan sayang akan tanah Maluku.


Alun-alun atau Lapangan Utama Kota Ambon tahun 1924, kini disebut Lapangan Merdeka


Banjir hancurkan Passo, 1915

Gempa Bumi di Ambon tahun 1898, pandangan jalan paradise


Batu Gantung 1919, suasana mama-mama bacuci dan mandi di kali


Jalan Raya Kawasan Benteng Tahun 1900


Jalan di Batugajah Ambon, 1928


Jalan Mardika tahun 1925


Jalan Pasar Ambon tahun 1900

Jalan Raya Passo, dengan Jembatan pake rumah + pohon sagu kiri kanan


Jalan Utama Negeri Naku tahun 1920


Ini salah satu jembatan di Ambon (Waitomu atau Wairuhu-Galala) tahun 1900


Jembatan Hatukau (Batumerah) Tahun 1930



Untuk sementara ini saja dulu ya,,, kalo masih ingin lihat foto sebelumnya (Bagian I) yg sudah pernah di share boleh KLIK DISINI ,,, 

Trima kasih Basudara,,,, Indahnya berbagi








Baca Selanjutnyya >>

Senin, 06 Agustus 2012

Dr. Johannes Leimena : Negarawan Sejati dari Ambon






Dr.Johannes Leimena atau biasa disapa "Om Jo" merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat menteri di kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. 

J.Leimena dilahirkan di Ambon pada tanggal 6 Maret 1905 dan menjalani masa-masa kecilnya di kota Ambon.  Pada tahun 1914 Leimena kecil hijrah ke Jakarta yang waktu itu masih bernama Batavia. Di Batavia  ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan, kemudian ia pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Menyelesaikan sekolahnya di Paul Krugerschool, ia melanjutkan pendidikan ke MULO Kristen dan kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen), Surabaya - yang merupakan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kini.

Keprihatinan Dr. J. Leimena atas  kurangnya  kepedulian  sosial  umat Kristen terhadap nasib bangsa merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada "Gerakan Oikumene". Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di  Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928 yang menghasilkan SUMPAH PEMUDA. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu.

Setelah menempuh pendidikan kedokterannya di STOVIA Surabaya tahun 1930, Leimena  melanjutkan pendidikan di Geneeskunde Hogeschool (GHS - Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1939.

Pada tahun 1930, Leimena mulai bekerja sebagai dokter. Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di "CBZ Batavia" yang kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Di RSCM ia tidak lama bertugas dimana ia dipindahtugaskan ke Karesidenan Kedu pada saat Gunung Merapi  meletus. Pada tahun 1931 Leimena dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung yang dijalaninya sampai tahun 1941.

Selain sebagai seorang dokter, Leimena selalu mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk di tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.

Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950 ia terpilih sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara.

Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya seperti Parkindo, DGI, UKI, STT dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini.

Leimena tercatat masuk dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II pada tahun 1946 sampai Kabinet Dwikora II pada tahun 1966, baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri maupun Wakil Menteri Pertama. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat militer yakni Laksamana Madya Tituler di TNI Angkatan Laut.

Jabatan yang pernah diemban seorang Dr.J.Leimena adalah :
  1. Menteri Muda Kesehatan pada Kabinet Sjahrir II ( 12 Maret 1946 - 2 Oktober 1946)
  2. Wakil  Menteri Kesehatan pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)
  3. Menteri  Kesehatan pada Kabinet Amir Sjarifuddin I (3 Juli 1947 - 11 November 1947)
  4. Menteri  Kesehatan pada Kabinet Amir Sjarifuddin II (11 November 1947-2 Januari 1948)
  5. Menteri  Kesehatan pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949)
  6. Menteri Negara pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949)
  7. Menteri Kesehatan pada Kabinet Republik Indonesia Serikat/RIS (20 Des 1949 - 6 Sept 1950)
  8. Menteri Kesehatan pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 20 Maret 1951)
  9. Menteri Kesehatan pada Kabinet Sukiman-Suwirjo (27 April 1951 - 3 April 1952)
  10. Menteri Kesehatan pada Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 30 Juli 1953)
  11. Menteri Kesehatan pada Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 24 Maret 1956)
  12. Menteri Sosial pada Kabinet Djuanda (9 April 1957 - 10 Juli 1959)
  13. Menteri Distribusi pada Kabinet Kerja I (10 Juli 1959 - 18 Februari 1960)
  14. Wakil Menteri Utama merangkap Menteri Distribusi pada Kabinet Kerja II (18 Februari 1960 - 6 Maret 1962)
  15. Wakil Menteri Pertama I pada Kabinet Kerja III (6 Maret 1962 - 13 Desember 1963)
  16. Wakil Perdana Menteri II pada Kabinet Kerja IV (13 November 1963 - 27 Agustus 1964)
  17. Menteri Koordinator pada Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964 - 22 Februari 1966)
  18. Wakil Perdana Menteri II merangkap Menteri Koordinator, dan Menteri Perguruan Tinggi & Ilmu Pengetahuan pada Kabinet Dwikora II (24 Februari 1966 - 28 Maret 1966)
  19. Wakil Perdana Menteri untuk urusan Umum pada Kabinet Dwikora III (27 Maret 1966 - 25 Juli 1966)



Pada tanggal 29 Maret 1977, Dr.J. Leimena meninggal dunia di Jakarta dan sebagai penghargaan kepada jasa-jasanya, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden No 52 TK/2010 pada tahun 2010 memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Dr. J.Leimena.

Monumen Pahlawan Nasional (Dr. J. Leimena)


Pada tanggal 9 Juni 2012 Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan patung dan rumah pahlawan nasional Johanis Leimena di Ambon. Peresmian patung dan rumah pahlawan nasional itu semula dijadwalkan pada Jumat (8/6/2012) sebelum acara Pembukaan MTQ Nasional ke XXIV di Kota Ambon, namun karena kedatangan Presiden Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono terlambat akibat cuaca buruk, maka pelaksanaan peresmian pada Sabtu pagi (9/6/2012). Patung atau Monumen Pahlawan Nasional ini dibangun di pertigaan kawasan Poka, Kecamatan Teluk Dalam, sedangkan rumah di desa kelahirannya yakni Ema, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.


Baca Selanjutnyya >>

Subhanallah : Khitan Pencegah Penyebaran HIV/AIDS

Tampayang !!!





Khitan yang sempat dipermasalahkan di berbagai negara Eropa dan AS,karena dianggap sebagai perbuatan yang sengaja menyakiti laki balita itu sekarang justeru digemari oleh masyarakat internasional,terutama di AS dan Eropa.Padahal sebelumnya Khitan dilarang ,sebagaimana hasil keputusan pengadilan Koln,Jerman beberapa waktu lalu.Namun kemudian Parlemen Jerman membatalkannya,menyusul aksi protes yang dilancarkan oleh umat Islam dan Yahudi Eropa.
Sebagaimana diketahui,bahwa khitan atau sunat itu merupakan bagian dari ajaran Islam dan juga ajaran Agama Yahudi,yang sudah diamalkan sejak kedua agama samawi itu ditunrunkan oleh Allah SWT.Bagi Yahudi khitan itu dilaksanakan terhadap bayi laki-laki saat berusi sekitar 7 sampai 8 hari mirip aqikah pada agama Islam.Sementara khitan bagi umat Islam itu juga dilaksanakan terhadap anak-laki-laki balita,dan ada juga hal serupa dilaksanakan terhadap anak-nanak perempuan.
Mulanya bangsa Eropa dan AS yang non Muslim dan non Yahudi,khitan itu dianggap kurang baik bagi kesehatan .Tetapi sekarang setelah mengadakan penelitian ,baru menyadari bahwa khitan atau sunat teresebut justeru diperintahkan oleh Allah terkait soal kesehatan sekssualitas manusia.Dalam konteks inilah kemudian salah seorang Epidemiolog AS ,Dr.Daniel Helperin mengemukan pendapatnya dalam sebuah bukunya”Tinderbox;How The West Sparked The Aids Epidemic and How The World Can Finally Overcome It”tersebut.
Dalam buku baru yang ditulis bersama Craig Timberg,mantan redaktur Harian terkemuka AS Washington Post.Ia mengemukan pandangannya dalam buku tersebut,bahwa masih ada cara-cara yang murah dan tradisional untuk mengurangi penularan baru HIV,virus penyebab AIDS yang sangat menakutkan itu. Salah satuya adalah khitan atau sunat bagi laki-laki yang terbukti mampu mengurangi bagi penularan baru HIV,  sebagai indikasinya bahwa didaerah-daerah secara umum terdapat tradisi khitan mampu menekan tingkat penularannya rendah.
Keduanya menjelaskan mengapa penularan HIV /AIDS sangat rendah di daerah-daerah yang laki-lakinya di khitan,dan sebaliknya justeru HIV/AIDS berkembang pesat di daerah-daerah yang laki-lakinya tidak  di sunat atau dikhitan seperti di negara-negara  Rwanda,Uganda dan Kenya dekat Danau Victoria. Dan virus HIV itu tidak datang dari Nigeria,Afrika Barat,tetapi justeru datangnya Sudan dan Lembah Sungai NIl karena disana jutaan laki-laki tidak di khitan.
Karenanya sekarang khitan itu sudah dianggap perlu oleh masyarakat modern di Eripa dan AS,yang sebelumnya menganggapnya sebagai tradisi Muslim dan Yahudi saja yang tidak sesuai dengan peradaban mereka.Namun setelah menyadarinya,barulah mereka minta dikhitan atau disunat meskipun usianya sudah dewasa. Allah SWT menurunkan ajarah-ajaran-Nya kepada manusia sesuai dengan fitrahnya,karenanya semua ajaran tersebut perlu dipatuhi ,ditaati dan dijalankannya secara kongkrit dalam berbagai aspek sosial kehidupan berbangsa dan bernegara. Subhanallah,,,,,






Baca Selanjutnyya >>

Senin, 30 Juli 2012

Cerita Inspirasi : Bapak, Muslim Nak ,,,

Tampayang !!!


Satu lagi cerita yang mungkin bisa memberi inspirasi bagi seorang muslim akan pentingnya saling tolong menolong dan berbagi antar sesama muslim. Semoga cerita singkat ini bermanfaat bagi semuanya.


***


"Yah rese deh, kena lampu merah lagi...!" Belum dua menit yang lalu kena lampu merah, kini aku lagi-lagi harus menginjak rem motor untuk menyambut si bohlam bulat merah. Desah kesal menghiasi telingaku saat ini. Apalagi saat kulihat beberapa motor dengan enaknya melanjutkan perjalanan, mentang-mentang tak ada polisi berjaga di sana.

Sambil melihat ulah anak-anak kecil menunggu receh dari para pengendara mobil didepanku, pandanganku tertumbuk pada sesosok bapak yang menjajakan sebuah gambar berukuran sedang dan sebuah hiasan meja. Oh! Gambar berpigura yang diapit tangan kanan itu ternyata gambar Yesus, dan hiasan meja yang digenggam tangan kiri adalah salib.

Ah.. biasa saja. Mau jual apapun, itu hak siapa saja. Namun, rasa kagetku muncul saat melihat bapak penjaja itu memakai peci haji!

Loh,gimana sih?!!

Si bapak kini mendekati aku, Kubuka helm yang sedari tadi melindungi kepalaku. Aku penasaran betul, ingin berbicara barang sedikit dengan bapak itu.
"Malem Pak.. Wah,malam-malam begini, masih jualan juga Pak? Belum pulang?" tanyaku sambil tak lupa mengulum senyum manis.
"Belum mas....", jawab si bapak tak kalah ramah.
"Biasanya bapak pulang jam 11-an".
"Dagangannya laku berapa Pak hari ini?". Aku kembali bertanya, sambil melihat-lihat pigura bergambar Yesus dan hiasan salib keramik yang dibawanya. Si Bapak menjawab sambil mengangkat sedikit salib keramik itu.
"Yah, yang salib sih laku 1 biji. Yang gambar ini,belum laku mas. Mas mau beli?!!" Aku tersenyum getir,walau tetap berusaha tampil manis. "Hehe...saya... saya muslim Pak. Maaf yah...!!"
"Oh,mas muslim thoo... Waduh saya yang minta maaf nih, Hmm, saya juga muslim."" Hihi.. si bapak jadi salah tingkah begitu.
Heh? Bener dugaanku. Wah,Ada yang nggak bener neh.
"Bapak Muslim? Lalu... mm... kenapa bapak jualan beginian?" tanyaku dengan hati-hati.
"Ya.. sebenarnya bapak juga ndak suka, mas. Biasa mas, gara-gara urusan perut". jawab si bapak. I knew it !! Kulihat raut wajahnya kini agak "mendem". Waduh, jadi gak enak nih.
"Trus Pak... tadi bapak bilang, hari ini baru laku 1 biji. Trus berapa untungnya? Apa cukup keuntungan 1 dagangan itu untuk kebutuhan sehari, Pak?"
"Mm... sebenarnya, laku nggak laku nggak jadi soal mas. Setiap hari, asal saya mau menjajakan ini, saya dikasih 25 ribu. Kalau dagangannya laku, semua uangnya buat saya... Kalo ada yang bisa ngasih pekerjaan lebih baik, saya udah pasti ndak mau jalanin ini. Saya tahu ini nggak halal. Tapi... kalo gak begini, kami sekeluarga makan apa mas!" Aku masih terdiam. Sampai tak sadar bahwa mesin motorku mati, kalau saja bapak itu tidak mengingatkan.
"Tapi mas boleh percaya, saya tetap muslim, gusti Allah tetep Tuhan saya. Kalau ada kerjaan lain dan hasilnya cukup untuk keluarga, saya pasti gak jualan beginian¡¨.
"Iya Pak. Mm.. apa bapak belum pernah coba jualan yang lainnya, gitu?"
"Iya, pernah...jualan koran, makanan kecil dan rokok, tapi hasilnya gak cukup mas, buat makan aja kurang, apalagi bayar sekolah anak ... jauh lah ama yang sekarang ini mas....".
TIINN!!
TIIN !!
Pengemudi mobil di belakang sudah membunyikan klakson.Ternyata lampu merah sudah padam, sampai kendaraan di belakang saya ngomel-ngomel.
"Oke pak... makasih banyak yah.... maaf sebelumnya. Assalamu'alaikum!" Aku bergegas menarik gas motorku, melewati perempatan pramuka yang saat itu sudah mulai sepi.

Sepanjang perjalanan Rawasari - Sumur Batu, aku betul-betul gundah. Kurang ajar misionaris itu !! Umpatan demi umpatan silih berganti memenuhi relung hatiku saat itu. Tapi mendadak aku tersadar. Hey... ini bukan salah misionaris itu ! Mereka hanya memanfaatkan situasi yang ada ! Situasi dimana umat Islam kini sudah betul-betul lemah dalam hal ekonomi. Situasi di mana umat Islam tak lagi peduli pada saudara seagamanya yang dhu'afa. Situasi di mana Rasululah pernah ungkapkan 14 abad silam, bahwa umat Islam yang mayoritas, tak ubahnya seperti buih di lautan. Tak berkekuatan. Tak berwibawa. Tak bergigi. Tak berpengaruh. Antara ada-tiada. Innaa lillaah...

Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku sumbangkan? Apa yang bisa aku bantu? Lagi-lagi berondongan pertanyaan menghujani pikiranku.
Ahh... pusing...

Peristiwa itu ternyata betul-betul terlupakan... sampai tadi aku menyaksikan acara di sebuah televisi swasta, yang menayangkan profil kaum dhu'afa, seorang bapak penjual kerupuk. Mendadak aku teringat pada si bapak penjual hiasan di perempatan Pramuka. Apa kabarnya sekarang? Apakah di bulan Ramadhan ini beliau tetap berjualan seperti biasanya? Ah... ingin rasanya memacu motor bebekku menemuinya. Tapi hm... sudah malam.

Ya Allah, semoga ini adalah teguran darimu, betapa kesadaran kami akan pentingnya saling tolong menolong pada sesama saudara segama, masih belum terpatri dengan baik, masih belum menjadi hiasan akhlak kami dalam menapaki hidup ini.

Ya Rabb, berikanlah kami kekuatan, karuniakanlah kami kesadaran, sinarilah hati kami dengan pancaran kasih dan sayangMu, sehingga kami bisa berusaha semaksimal mungkin menyayangi dan mengasihi sesama kami.

Ya Rahmaan, yaa Rahiim.

Di luar sana banyak saudara-saudara kami yang mendapatkan nafkah melalui cara yang mungkin tidak Engkau ridhai, karena kondisi yang memaksa. Berilah mereka ampunan, berilah mereka hidayah, maafkanlah ketidaktahuan mereka, ya Rabb. Tuntunlah mereka menuju jalan yang Engkau ridhai, dan tuntunlah kami untuk membantu mereka.

------- ditulis oleh: Ahmad Syauqi untuk sebuah milis (sumber: milis)

Baca Selanjutnyya >>

Ingin Cerdas ? Berpuasalah,,,

Tampayang !!!

"Puasa tidaklah melemahkan fisik tapi justru menghidupkan pikiran dan meningkatkan kecerdasan"


Salam Basudara,,,
Mumpung lagi bulan Ramadhan, saya mau share salah satu artikel menarik tentang hikmah dari berpuasa. Semoga dengan membaca artikel singkat ini dapat membuat kita (yg muslim) lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah puasa ramadhan, Amin. Indahnya berbagi,,,

oTak Kita yang beratnya sekitar 1,3 kg tersusun atas jaringan yang rumit. Otak bertindak atas dasar informasi yang diterima terus menerus dan tiada putus-putusnya, serta dibantu oleh saraf dan hormon. Otak berfungsi mengatur suhu badan, tekanan darah, keseimbangan kadar kimia dalam tubuh, oksigen dan karbondiokasida dalam darah. Otak juga berfungsi memberi tahu kapan saatnya tubuh membutuhkan makan, tidur, bangun dan sebagainya.

Otak memiliki kemampuan berpikir, berimajinasi, dan berkreasi yang tidak bisa dilakukan oleh komputer secanggih apapun. Kemampuan kerja otak sangat dipengaruhi oleh banyak sedikitnya makanan yang masuk ke perut. Dengan mengendalikan makanan, akan tercipta konsentrasi dan pemusatan pikiran, yang berarti meningkatkan IQ (Intelligence Quotient).

Apabila perut kita dipenuhi oleh makanan yang berlebihan, maka sel-sel akan kebanjiran zat makanan, berakibat urat saraf menjadi lembab, kerja otak terhambat, dan terjadi kemunduran intelektual, seperti menjadi pelupa, daya nalar melemah, dan sebagainya. Disinilah pentingnya puasa, selain sebagai pengendali nafsu, juga memberikan kesempatan pada perut dan lambung untuk membersihkan diri. Hal ini dikarenakan oleh :

Pertama, perut dalam keadaan kosong akan menyebabkan kosongnya zat-zat makanan didalam usus kecil. Oleh karena itu darah terpaksa mengisap zat-zat yang basah dalam usus dan perut sebagai gantinya. Orang yang sering mengalami keadaan yang demikian pada umumnya mempunyai penglihatan yang tajam, gerak-geriknya cepat, serta memiliki kecakapan menganalisa persoalan dengan mudah.
Kedua, setelah zat-zat yang basah siap dihisap oleh darah tadi hilang, maka usus dan perut menjadi kering dan panas, dalam keadaan demikian biasanya orang mempunyai sifat sederhana dalam segala hal, bertindak tegas dalam mengambil keputusan tanpa sikap ragu-ragu.
Ketiga, dalam keadaan usus dan perut kosong tadi maka lendir yang berada dalam usus dan perut akan menjadi hancur. Lendir inilah yang menjadi sumber penyakit. Lendir ini kalau selalu bertambah dalam usus dan perut akan menyebabkan timbulnya penyakit yang dinamakan muceszichten. Jika seseorang dihinggapi penyakit ini, ia akan bersikap pasif, rendah dan lemah daya pikirnya, serta lambat dalam segala-galanya.

Muceszichten ini banyak jenisnya, antara lain menyebabkan lemahnya pencernaan, karena makanan di dalam perut tidak lekas hancur (halus) lantaran licin oleh banyaknya lendir yang mengakibatkan kerja saraf otak dan tubuh menjadi lamban dan lemah. Lambatnya kerja serat saraf otak menyebabkan pikiran menjadi tumpul, sukar sekali untuk berpikir dan menerima pelajaran. Sementara fisik selalu terasa berat, malas dan lemah.

Syaikh az-Zarnuji (570-636 H) dalam karyanya Ta’limu Muta’alim yang terkenal didunia pesantren menyatakan bahwa para penuntut ilmu sudah seharusnya melakukan puasa, karena dengan berpuasa otak akan terpacu untuk berkonsentrasi, sementara banyak makan akan menimbulkan dahak dan dahak yang banyak memicu lemah hafalan. Begitu juga Lukmanul Hakim yang namanya diabadikan dalam al-Quran memberikan nasihat pada putranya:

“Wahai Putraku, bila perutmu penuh maka pikiranmu akan tidur, kebijaksanaanmu akan kelu, dan anggota tubuh malas menjalankan ibadah.”

Puasa tidak akan melemahkan fisik, atau menyebabkan seseorang menjdai kekurangan gizi. Puasa justru akan menyegarkan badan dan pikiran. Di dalam hikmah disebutkan: “Barang siapa lapar perutnya maka menjadi besarlah pikirannya dan menjadi cerdaslah hatinya.”

Imam Asy-Syafi’I berkata bahwa beliau tidak pernah melakukan makan kenyang selama enam belas tahun kecuali hanya sekali karena kenyang bisa berkibat memberatkan tubuh, mematikan hati, melenyapkan kecerdasan, mendorong tidur, dan membuat malas beribadah.


Jadi, marilah kita berpuasa!
Baca Selanjutnyya >>

Koleksi Foto Kota Ambon Tempo Doeloe (Bagian I)

Tampayang !!!

Basudara samua, pada kesempatan ini akan dishare koleksi foto-foto tentang Ambon atau Maluku. Karena fotonya banyak jadi dishare bertahap dan ini yang bagian pertama. Semoga foto-foto jadul ini bisa mengobati rindu atas tanah Maluku yang Manise dan membuat basudarara semua semakin cinta dan sayang akan tanah Maluku. Indahnya Berbagi,,,,,

View Teluk Ambon dari Batumerah atas (Hatukau)

Teluk Ambon (Thn 1900)

Aktivitas Gemeente (Kantor Walikota Ambon) di Tahun 1935


Jalan Pacinan (A.Y.Patty)


Pelabuhan Ambon (1930)

Wai Batumerah (Hatukau) Thn 1925


Aer Batu Gantung (1925)


Air terjun kecil di Batu Gantung,,, Namanya Batu Sumbayang ato Batu Bulan


Air Besar, Thn 1915


Bacuci di Air Putri , 1928


Bagaya Par ambel Foto di teluk ambon thn 1900,,, (hhmmm memang kapala gaya dari jadul)

Jembatan Hatukau (Batumerah) Tempo Doeloe



Koleksi foto selanjutnya dapat dilihat dibawah ini :




Baca Selanjutnyya >>