Tampilkan postingan dengan label Sejarah Maluku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Maluku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Agustus 2012

Koleksi Foto Kota Ambon Tempo Doeloe (Bagian III)

Dear Basudara,,, pada kesempatan ini akan dishare lagi koleksi foto-foto ambon tempo doeloe untuk yang ketiga kalinya. Masih banyak lagi koleksi fotonya yang akan share lagi pada kesempatan yang selanjutnya. Semoga Foto - foto ini bisa mengobati rasa rindu atas tanah ambon yang manise dan membuat kita semua semakin cinta akan tanah tanah ambon,,,,



Benteng Nieuw Victoria (1910)


Hotel Banda di Ambon tahu 1880 (wah,,, sudah ada hotel  di ambon ya di masa ini)

Hotel Soselisa di Ambon tahun 1910


Kantor Pos Ambon tahun 1925


Kweekschool STOVIL di Batu Gantung, 1925 


Mesjid Agung An-nur Negeri Hatukau (Batumerah) tahun 1575


Mesjid Jami Ambon tahun 1895


Depan Gereja Soya Atas (1937)


Gereja Rehoboth (1928)


Gereja Silo Ambon (1925)


Jemaat Kristen Protestan Kota Ambon usai beribadah minggu di Gereja Protestan pada tahun 1923.


kampung Batugajah tahun 1875.  Lokasi ini masih ada dan sekarang dijadikan Markas Korem Binaya 


Ikan Taator bagus ee,,, (1900)


Masih ingin melihat foto-foto yang sudah di share sebelumnya, bisa di-klik saja di bawah ini :






Baca Selanjutnyya >>

Rabu, 08 Agustus 2012

Jihad Dengan Bahasa Indonesia



Sebagian besar kosakata bahasa Indonesia sekarang ini berasal dari bahasa Melayu dulu yang telah berproses sejak ratusan tahun yang lalu. Dua kalimat bahasa Melayu yang diketahui digunakan pada abad ke-15 ini menjadi contoh, yaitu apenamaito dan sudan macan? Kita akan kesulitan untuk memahami kedua kalimat ini, tapi akan mudah jika dipahami dengan bahasa Indonesia sekarang yang artinya “apa nama itu“ dan “sudah makan“? Tercatat masih ratusan ribu lagi kata atau kalimat Melayu yang telah menjadi bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari. Dengan kata lain, tidak salah jika dikatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bagian dari bahasa Melayu, mempertahankan bahasa Indonesia berarti juga mempertahankan keberadaan bahasa Melayu, dan dikarenakan Melayu identik dengan Islam maka mempertahankan bahasa Melayu dan juga mempertahankan bahasa Indonesia adalah sebuah bentuk jihad.
Apa alasan jihad itu? James T Collins penulis buku Malay, World Languange: a short history yang telah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Bahasa Melayu Bahasa Dunia: Sejarah Singkat menyatakan bahwa bahasa Melayu berkembang dari tempat asalnya pada masa prasejarah di Kalimantan Barat hingga menyebar dengan cepat ke Sumatra, Semenanjung Malaya, Jawa bagian utara, Kalimantan bagian utara dan timur, Filipina Barat, serta Indonesia bagian timur. Melayu yang identik dengan Islam terlihat dari batu nisan orang Islam yang ditulis pada 1380 ditemukan di dekat Minye Tujoh (Sumatra Utara).
Bahasa Melayu dalam tulisan dengan bentuk tulisan Arab Melayu atau Jawi juga menjadi bahasa surat-menyurat oleh kesultanan-kesultanan dan kerajaan di nusantara, dari Aceh, Jawa, sampai Ternate. Juga dalam peperangan melawan Portugis dan Belanda, kesultanan-kesultanan dan kelompok-kelompok pejuang Islam yang bersekutu melawan penjajahan kaum kafir menggunakan bahasa Melayu sebagai alat mereka berkomunikasi, baik dalam bertutur, melakukan surat-menyurat, maupun membuat hikayat dan syair-syair pengobar semangat perang melawan penjahah, sehingga bahasa Melayu identik sebagai bahasa umat Islam nusantara.
Seperti penjelasan James T Collins di bukunya tersebut bahwa ada sebuah hikayat, yaitu Hikayat Tanah Hitu, yang ditulis dalam tulisan Arab Melayu ditulis oleh Imam Rijali, pemuka agama dari pelabuhan Islam di Hitu, di Pulau Ambon. Hikayat ini merupakan sejarah atas kisah nyata Imam Rijali yang mencari bantuan untuk orang-orang Muslim di Ambon yang berperang melawan Belanda.
Selain itu, ada pula seorang penulis Melayu dari Sultan Makassar, Encik Amin, yang menulis syair sejarah bersajak (aaaa), Sya`ir Perang Mengkasar, yang menceritakan perang Makassar melawan Belanda dan sekutunya secara mendetail. Banyak yang menuliskan bahwa syair ini sangat dipengaruhi oleh syair percobaan Hamzah Fansuri pada abad ke-16. Juga begitu kuat pengaruh dan kejayaan bahasa Melayu di nusantara yang identik sebagai bahasa kaum Muslimin pada masa penjajahan Belanda membuat penjajah harus ikut serta menyediakan naskah-naskah dalam bahasa Melayu untuk orang Kristen, khususnya di Ambon. Ini dikarenakan dalam pertemuan antara orang Belanda dan penduduk asli Ambon yang beragama Kristen, orang-orang Belanda tersebut mendengar pengaduan penduduk bahwa tetangga mereka yang Muslim mengejek mereka yang memeluk Kristen karena tidak memiliki buku berbahasa Melayu.
Islam yang memiliki sejumlah naskah ini adalah keinginan kaum muslim di Ambon. Maka, orang-orang Kristen di Ambon ini mengatakan kepada orang-orang Belanda, “Apakah Kristen tidak mempunyai naskah dalam Bahasa Melayu?“ Setelah diusahakan beberapa kali, Belanda mulai menyediakan naskah dalam bahasa Melayu untuk orang Kristen di Ambon. Ini baru tiga contoh, masih banyak lagi contoh-contoh yang lain.
Lalu, kini muncul gagasan yang sudah mulai diterapkan di beberapa sekolah dengan status rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), khususnya di Ibu Kota, yaitu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajaran, bukan lagi bahasa Indonesia. Padahal, dari hasil penelitian, penerapan itu tidak berdampak pada kualitas murid. Jika penggunaan bahasa Inggris dimaksudkan untuk membawa anak didik agar dapat bertutur dengan bahasa Inggris maka tahukah mereka jika Pemerintahan Kerajaan Malaysia sekarang sedang khawatir karena umumnya pelajar mereka di tingkat SLTP kesulitan bertutur dengan bahasa Melayu dan berusaha dengan keras mengembalikan Bahasa Melayu sebagai bahasa tutur mereka jika tidak ingin identitas mereka sebagai sebuah etnis, sebuah bangsa menjadi punah? Tahukah mereka bahwa bahasa Melayu telah mempertahankan kedudukannya sebagai bahasa yang paling berpengaruh di Asia Tenggara dan satu dari lima bahasa dunia yang mempunyai jumlah penutur terbesar. Bahasa Melayu merupakan bahasa nasional satu-satunya dari empat negara: Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Lebih dari sejuta penutur bahasa Melayu bermukim di Thailand, sementara minoritas lebih kecil bermukim di Birma, Sri Langka, Australia, dan Belanda. Bahasa Melayu juga tetap menjadi bahasa penunjang dalam pendidikan Islam di Kamboja dan Vietnam, sebagian bahasa penghubung di ujung barat Papua Nugini, serta menjadi lambang tradisi komunitas Melayu di masyarakat Afrika Selatan.
Bahasa Melayu dipelajari di universitas di delapan negara Eropa dan dua negara di Amerika Utara, Beijing, Bangkok, Kazakstan, Osaka, Auckland, Pusan, Tasmania, dan Cebu City. Sedangkan, komunitas sarjana internasional yang mengkhususkan diri pada bahasa Melayu, antara lain, penduduk di Italia, Tanzania, Estonia, Israel, India, Republik Ceko, Swiss, Belanda, Rusia, Irlandia, Jerman, Taiwan, Finlandia, Thailand, Prancis, dan juga ratusan sarjana Asia Tenggara yang mewakili 200 juta penutur bahasa Melayu di daerah mereka. Apalagi, jika membaca sejarah di atas, sekali lagi berbahasa Indonesia atau Melayu adalah sebuah jihad sebagai wujud cinta Tanah Air dan bangsa ini yang identik dengan Melayu dan Melayu identik dengan Islam.

Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Koordinator Pengkajian JIC





Baca Selanjutnyya >>

Koleksi Foto Kota Ambon Tempo Doeloe (Bagian II)

Tampayang !!!

Dear Basudara,,,, pada kesempatan ini akan saya share kembali koleksi foto-foto Kota Ambon tempo doeloe yang kedua kalinya. Masih banyak lagi koleksi fotonya jadi akan ada bagian lanjutannya. Semoga foto-foto ini bisa mengobati rindu atas tanah Maluku yang Manise dan membuat basudarara semua semakin cinta dan sayang akan tanah Maluku.


Alun-alun atau Lapangan Utama Kota Ambon tahun 1924, kini disebut Lapangan Merdeka


Banjir hancurkan Passo, 1915

Gempa Bumi di Ambon tahun 1898, pandangan jalan paradise


Batu Gantung 1919, suasana mama-mama bacuci dan mandi di kali


Jalan Raya Kawasan Benteng Tahun 1900


Jalan di Batugajah Ambon, 1928


Jalan Mardika tahun 1925


Jalan Pasar Ambon tahun 1900

Jalan Raya Passo, dengan Jembatan pake rumah + pohon sagu kiri kanan


Jalan Utama Negeri Naku tahun 1920


Ini salah satu jembatan di Ambon (Waitomu atau Wairuhu-Galala) tahun 1900


Jembatan Hatukau (Batumerah) Tahun 1930



Untuk sementara ini saja dulu ya,,, kalo masih ingin lihat foto sebelumnya (Bagian I) yg sudah pernah di share boleh KLIK DISINI ,,, 

Trima kasih Basudara,,,, Indahnya berbagi








Baca Selanjutnyya >>

Senin, 06 Agustus 2012

Dr. Johannes Leimena : Negarawan Sejati dari Ambon






Dr.Johannes Leimena atau biasa disapa "Om Jo" merupakan tokoh politik yang paling sering menjabat menteri di kabinet Indonesia dan satu-satunya Menteri Indonesia yang menjabat sebagai Menteri selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus. 

J.Leimena dilahirkan di Ambon pada tanggal 6 Maret 1905 dan menjalani masa-masa kecilnya di kota Ambon.  Pada tahun 1914 Leimena kecil hijrah ke Jakarta yang waktu itu masih bernama Batavia. Di Batavia  ia meneruskan studinya di ELS (Europeesch Lagere School), namun hanya untuk beberapa bulan, kemudian ia pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang). Menyelesaikan sekolahnya di Paul Krugerschool, ia melanjutkan pendidikan ke MULO Kristen dan kemudian melanjutkan pendidikan kedokterannya di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen), Surabaya - yang merupakan cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kini.

Keprihatinan Dr. J. Leimena atas  kurangnya  kepedulian  sosial  umat Kristen terhadap nasib bangsa merupakan hal utama yang mendorong niatnya untuk aktif pada "Gerakan Oikumene". Pada tahun 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di  Bandung. Konferensi ini adalah perwujudan pertama Organisasi Oikumene di kalangan pemuda Kristen. Dengan keaktifannya di Jong Ambon, ia ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia tanggal 28 Oktober 1928 yang menghasilkan SUMPAH PEMUDA. Perhatian Leimena pada pergerakan nasional kebangsaan semakin berkembang sejak saat itu.

Setelah menempuh pendidikan kedokterannya di STOVIA Surabaya tahun 1930, Leimena  melanjutkan pendidikan di Geneeskunde Hogeschool (GHS - Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta yang diselesaikannya pada tahun 1939.

Pada tahun 1930, Leimena mulai bekerja sebagai dokter. Pertama kali diangkat sebagai dokter pemerintah di "CBZ Batavia" yang kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Di RSCM ia tidak lama bertugas dimana ia dipindahtugaskan ke Karesidenan Kedu pada saat Gunung Merapi  meletus. Pada tahun 1931 Leimena dipindahkan ke Rumah Sakit Zending Immanuel Bandung yang dijalaninya sampai tahun 1941.

Selain sebagai seorang dokter, Leimena selalu mengikuti perkembangan CSV yang didirikannya saat ia duduk di tahun ke 4 di bangku kuliah. CSV merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) tahun 1950.

Pada tahun 1945, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) terbentuk dan pada tahun 1950 ia terpilih sebagai ketua umum dan memegang jabatan ini hingga tahun 1957. Selain di Parkindo, Leimena juga berperan dalam pembentukan DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia, kini PGI), juga pada tahun 1950. Di lembaga ini Leimena terpilih sebagai wakil ketua yang membidangi komisi gereja dan negara.

Ketika Orde Baru berkuasa, Leimena mengundurkan diri dari tugasnya sebagai menteri, namun ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Usai aktif di DPA, ia kembali melibatkan diri di lembaga-lembaga Kristen yang pernah ikut dibesarkannya seperti Parkindo, DGI, UKI, STT dan lain-lain. Ketika Parkindo berfusi dalam PDI (Partai Demokrasi Indonesia, kini PDI-P), Leimena diangkat menjadi anggota DEPERPU (Dewan Pertimbangan Pusat) PDI dan pernah pula menjabat Direktur Rumah Sakit DGI Cikini.

Leimena tercatat masuk dalam 18 kabinet yang berbeda, sejak Kabinet Sjahrir II pada tahun 1946 sampai Kabinet Dwikora II pada tahun 1966, baik sebagai Menteri Kesehatan, Wakil Perdana Menteri maupun Wakil Menteri Pertama. Selain itu Leimena juga menyandang pangkat militer yakni Laksamana Madya Tituler di TNI Angkatan Laut.

Jabatan yang pernah diemban seorang Dr.J.Leimena adalah :
  1. Menteri Muda Kesehatan pada Kabinet Sjahrir II ( 12 Maret 1946 - 2 Oktober 1946)
  2. Wakil  Menteri Kesehatan pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)
  3. Menteri  Kesehatan pada Kabinet Amir Sjarifuddin I (3 Juli 1947 - 11 November 1947)
  4. Menteri  Kesehatan pada Kabinet Amir Sjarifuddin II (11 November 1947-2 Januari 1948)
  5. Menteri  Kesehatan pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949)
  6. Menteri Negara pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949)
  7. Menteri Kesehatan pada Kabinet Republik Indonesia Serikat/RIS (20 Des 1949 - 6 Sept 1950)
  8. Menteri Kesehatan pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 20 Maret 1951)
  9. Menteri Kesehatan pada Kabinet Sukiman-Suwirjo (27 April 1951 - 3 April 1952)
  10. Menteri Kesehatan pada Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 30 Juli 1953)
  11. Menteri Kesehatan pada Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 - 24 Maret 1956)
  12. Menteri Sosial pada Kabinet Djuanda (9 April 1957 - 10 Juli 1959)
  13. Menteri Distribusi pada Kabinet Kerja I (10 Juli 1959 - 18 Februari 1960)
  14. Wakil Menteri Utama merangkap Menteri Distribusi pada Kabinet Kerja II (18 Februari 1960 - 6 Maret 1962)
  15. Wakil Menteri Pertama I pada Kabinet Kerja III (6 Maret 1962 - 13 Desember 1963)
  16. Wakil Perdana Menteri II pada Kabinet Kerja IV (13 November 1963 - 27 Agustus 1964)
  17. Menteri Koordinator pada Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964 - 22 Februari 1966)
  18. Wakil Perdana Menteri II merangkap Menteri Koordinator, dan Menteri Perguruan Tinggi & Ilmu Pengetahuan pada Kabinet Dwikora II (24 Februari 1966 - 28 Maret 1966)
  19. Wakil Perdana Menteri untuk urusan Umum pada Kabinet Dwikora III (27 Maret 1966 - 25 Juli 1966)



Pada tanggal 29 Maret 1977, Dr.J. Leimena meninggal dunia di Jakarta dan sebagai penghargaan kepada jasa-jasanya, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden No 52 TK/2010 pada tahun 2010 memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Dr. J.Leimena.

Monumen Pahlawan Nasional (Dr. J. Leimena)


Pada tanggal 9 Juni 2012 Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan patung dan rumah pahlawan nasional Johanis Leimena di Ambon. Peresmian patung dan rumah pahlawan nasional itu semula dijadwalkan pada Jumat (8/6/2012) sebelum acara Pembukaan MTQ Nasional ke XXIV di Kota Ambon, namun karena kedatangan Presiden Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono terlambat akibat cuaca buruk, maka pelaksanaan peresmian pada Sabtu pagi (9/6/2012). Patung atau Monumen Pahlawan Nasional ini dibangun di pertigaan kawasan Poka, Kecamatan Teluk Dalam, sedangkan rumah di desa kelahirannya yakni Ema, Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon.


Baca Selanjutnyya >>

Senin, 30 Juli 2012

Koleksi Foto Kota Ambon Tempo Doeloe (Bagian I)

Tampayang !!!

Basudara samua, pada kesempatan ini akan dishare koleksi foto-foto tentang Ambon atau Maluku. Karena fotonya banyak jadi dishare bertahap dan ini yang bagian pertama. Semoga foto-foto jadul ini bisa mengobati rindu atas tanah Maluku yang Manise dan membuat basudarara semua semakin cinta dan sayang akan tanah Maluku. Indahnya Berbagi,,,,,

View Teluk Ambon dari Batumerah atas (Hatukau)

Teluk Ambon (Thn 1900)

Aktivitas Gemeente (Kantor Walikota Ambon) di Tahun 1935


Jalan Pacinan (A.Y.Patty)


Pelabuhan Ambon (1930)

Wai Batumerah (Hatukau) Thn 1925


Aer Batu Gantung (1925)


Air terjun kecil di Batu Gantung,,, Namanya Batu Sumbayang ato Batu Bulan


Air Besar, Thn 1915


Bacuci di Air Putri , 1928


Bagaya Par ambel Foto di teluk ambon thn 1900,,, (hhmmm memang kapala gaya dari jadul)

Jembatan Hatukau (Batumerah) Tempo Doeloe



Koleksi foto selanjutnya dapat dilihat dibawah ini :




Baca Selanjutnyya >>

Rabu, 27 Juni 2012

Tentang "Tampayang Maluku Blog"....

"TAMPAYANG",,, yah begitulah nama ini yang terlintas dan langsung melekat saat terpikir untuk memiliki sebuah personal blog yang sebenarnya sudah lama diidam-idamkan. Tampayang merupakan pengucapan dalam bahasa ambon sehari-hari atau dalam bahasa Indonesia disebut "Tempayan". Tampayang adalah sebuah wajan atau tempat untuk menampung air yang berbentuk guci yang biasanya terbuat dari tanah liat atau batu... Sedikit terinspirasi oleh cerita "Tampayang Tua" yang berada di Gunung Sirimau atau lebih dikenal dengan nama "Tampayang Sirimau". Kadang juga disebut "Tampayang Soya" karena Gunung Sirimau itu berada di Desa Soya Kota Ambon. Tampayang tersebut berada di puncak Gunung Sirimau atau berada di ketinggian sekitar 600 Mdpl. Menariknya dari dahulu kala Tampayang ini selalu terisi air dan tak pernah kering walau di musim kemarau. Bahkan ada sebagian masyarakat yang meyakini air di dalam tampayang itu bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Banyak Versi sejarah tentang Tampayang ini. Salah satu versi menerangkan "Cerita tempayan bermula dari banyak wisatawan yang berkunjung di gunung sirimau tetapi sayang disana tidak ada air untuk diminum. Jadi ada orang yang tinggal di gunung itu yang merasa kasihan melihat wisatawan yang kehausan, maka Ia membuat sebuah tempayan dari tanah liat dan mengisi air di dalamnya untuk di minum. Karena kasihnya kepada orang lain sangat besar, maka Tuhan memberkati beliau dan tempayannya itu. Akhirnya tempayan itu tidak pernah kering". 

Versi lain menyebutkan : Tempayan Tua merupakan kenang-kenangan untuk raja Soya yang diberikan kerajaan Majapahit, atas pengakuannya terhadap kerajaan terbesar di nusantara itu. Bahkan oleh Raja Soya saat itu memberikan gelar kepada raja Majapahit dengan sebutan “Upulatu Sirimau Mas Raden Labu Inang Mojopahit”.

Ada juga versi sebagian masyarakat di Soya menyebutkan : Tempayan Tua tersebut merupakan hibah atau pemberian kepada raja dari Rumatau Hitijahubessy karena diterima untuk menjadi penduduk Soya. Sejak saat itu Rumatau Hitijahubessy menjadi salah satu keluarga atau kelompok masyarakat Soya yang tergabung dalam soa pendatang yang lebih dikenal dengan Soa Erang. Bahkan ada juga yang menyebutkan bahwa Tampayang itu milik para pedagang (katanya dari Tionghoa) yang disediakan untuk para pedagang sering melintasi di jalur itu,,,
 
Berbeda ceritanya dengan masyarakat di Negeri Batumerah (Hatukau) yang secara historisnya leluhur mereka berasal dari Negeri Soya atau pegunungan sirimau. Konon, menurut cerita turun temurun di Batumerah bahwa Tampayang itu adalah milik Raja Sirimau di masa lampau sebelum datangnya Bangsa Portugis di Pulau Ambon. Air di Tampayang itu selain digunakan untuk minum juga digunakan untuk wudhu bagi Raja karena di puncak gunung sirimau itulah ditenggarai merupakan tempat khusus Raja Sirimau sebagai tempat bertapa/bersemedi, tempat berdoa memohon petunjuk Illahi atau mungkin tempat ritual khusus Raja Sirimau. Cerita ini sangat logis dan dapat dibenarkan mengingat di dekat Tampayang tua tersebut ada sebuah batu yang berbentuk tempat duduk yang ditenggarai merupakan tempat duduk Raja Sirimau dan dari tempat itulah dapat dilihat Kota Ambon dengan teluk yang indah yang merupakan wilayah kekuasaan Raja Sirimau di masa itu.

Lain halnya dengan segelintir masyarakat kota ambon yang menyebut Tampayang tua tersebut dengan sebutan "Tampayang Setan". Entah dari mana  mulanya hingga digunakan kata "Setan", mungkin dianggap tampayang itu milik Setan atau dijaga Setan ataukah ada berbagai cerita mistik lainnya dibalik tampayang itu. Memang, banyak cerita di zaman penjajahan itu yang sengaja dipelesetkan yang yang pastinya memiliki tujuan dan misi tertentu. Mungkin saja ingin menghilangkan ingatan masyarakat akan asal usulnya, akan perjuangan leluhurnya di masa lalu, dan berbagai propaganda lainnya. Seperti kisah Sebuah Mata Air di yang di dekatnya ada bekas telapak kaki Imam Besar di masa perjuangan islam ambon menentang Bangsa Penjajah, kemudian tempat tersebut diplesetkan namanya menjadi "Air Kaki Setan". Sama halnya dengan kisah "Nene Luhu" yang adalah seorang srikandi islam di Negeri Soya lama di masa perjuangan islam ambon menentang Bangsa Penjajah, kemudian diplesetkan ceritanya menjadi arwah yang gentayangan dan suka menggoda laki-laki yang mata keranjang, bahkan suka menculik anak-anak karena katanya Nenek Luhu dulunya ingin menikah dengan perwira asing dan memiliki anak namun tidak terpenuhi karena dilarang Raja yang adalah bapaknya sampai akhirnya meninggal dunia. Mungkin alangkah baiknya mengambil sisi positif dari cerita ini, setidaknya mungkin sebagai suatu peringatan untuk laki-laki hidung belang di masa itu, ataupun untuk anak-anak kecil agar tidak pergi jauh dari rumah nanti diculik "Nene Luhu",,, Mungkin Seperti Itulah,,,, :)

Terlepas dari berbagai versi cerita diatas, maksud peluncuran Blog ini sebenarnya bukan untuk membandingkan kebenaran catatan sejarah atau cerita rakyat. Tapi Blog ini murni mengambil sisi positif dari fungsi dan manfaat dari Tampayang itu sendiri sebagai sebuah benda. Tampayang yang fungsinya sebagai tempat menampung air di jaman dahulu tentunya merupakan suatu benda yang bernilai guna lebih mengingat esensi air yang dimanfaatkan untuk minum, berwudhu, mandi, ataupun dan berbagai kebutuhan lainnya tentunya menjadi sumber kehidupan manusia manusia dari dulu, kini bahkan di masa yang akan datang.

Harapannya Blog ini akan berfungsi sama seperti judulnya "Tampayang" sebagai penampung air yang dimanfaatkan dalam kehidupan. Sehingga Blog ini juga diharapkan sebagai suatu wadah yang menampung berbagai informasi dan cerita yang bermanfaat bagi semua orang. Kata "Maluku" sengaja ditambahkan sebagai identitas, asal dan kecintaan akan masyarakat dan bumi Maluku. 

Itu Sudah,,,,,



Baca Selanjutnyya >>

Senin, 04 Juni 2012

Selayang Pandang "Mesjid Agung An'Nur Batumerah dan Mesjid Jami Ambon"


1.  MESJID AGUNG AN’NUR NEGERI HATUKAU (BATUMERAH)

Mesjid Agung An'Nur (1575)


Mesjid Agung An'Nur Negeri Hatukau (Batumerah) dibangun pada masa pemerintahan seorang kaya bernama "Ibrahim Safari Hatala" pada tahun 1575 M. Ukuran bangunan utama masjid saat itu hanya 10 x 15 M2  dengan arsitektur yang sangat sederhana, seolah rumah yang diberi cungkup pada kubahnya. Itupun berbentuk kerucut seperti piramida teriris. Pada mulanya mesjid ini didirikan hanya beratap rumbia, bertiang kayu, dengan lantai pasir putih yang diambil dari tepian pantai laut maluku.
Ketika pemerintahan di negeri hatukau (batumerah) beralih kepada Hasan Hatala yang kemudian bergelar “Patti Raja Hatala” pada tahun 1605 M, mesjid yang beratapkan rumbia ini dipugar bangunannya menjadi permanen dan beratapkan seng. Karena pengaruh perkembangan islam yang begitu cepat di wilayah itu maka penduduknya kian hari semakin bertambah. Melihat kemajuan islam yang begitu pesat, Raja Abdurrahman Hatala yang masih keturunan “Ibrahim Safari Hatala” memugarnya untuk yang kedua kalinya di tahun 1805 M. boleh dikatakan hampir semua penduduknya beragama islam sehingga mesjid tidak mampu lagi menampung para jamaahnya.

TEMPAT BUYA HAMKAH DAN BEY ARIFIN  MENGAJI
Karena kurang besarnya ruangan mesjid ini, maka Raja yang memerintah pada saat itu, yakni pada tahun 1924 M melakukan pemugaran lagi terhadap mesjid ini dengan tidak menghilangkan bentuk aslinya yang pertama. Raja yang  memerintah pada saat itu adalah Abdul Wahid Nurlette yang juga merupakan ulama terkenal di pulau ambon (Jazirah Leitimor dan Jazirah Leihitu) pada masanya.
Pada masa itulah “Buya Hamkah” seorang Ulama Nasional yang menjadi Ketua MUI pertama, dan “Bey Arifin” seorang Ulama kondang yang sangat di segani di Wilayah Jawa Timur, pernah belajar di Mesjid Agung An’Nur Desa Batumerah ini. Apa yang mendorong dua ulama besar itu datang belajar di mesjid ini di masa Pra Kebangkitan Nasional. Dimana Mereka pernah berkunjung ke Batumerah pada tahun 1939 dan kemudian tahun 1968.
Cat : dikutip dari Buku Karya Abdul Baqir Zain  “Mesjid-mesjid Bersejarah di Indonesia” tahun 1999
Mesjid Agung An'Nur (1980-an)


Hal ini menunjukan bahwa sejak dahulu dibangunnya mesjid ini, telah menjadi salah satu pusat belajar islam di wilayah maluku (Jazirah Al-Mulk). Hal ini didukung dengan direktori Departemen Agama RI yang memasukan Mesjid An’Nur Negeri Batumerah (Hatukau) sebagai salah satu Mesjid besar dan bersejarah di Indonesia.

 Mesjid Agung An'Nur (2010)

2.   SEJARAH SINGKAT “MESJID JAMI” AMBON

Mesjid Jami Ambon (1895)




Masjid yang berlokasi di kelurahan Silale Ambon ini didirikan pada tahun 1860 Masehi oleh H. Abdul Kadir Hatala, seorang Imam Besar di Kota Ambon diatas tanah wakafIbu Kharie. Pada tahun 1898 M, dilakukan perluasan masjid. Tahun 1933 ketika Kota Ambon dilanda Banjir Besar, Masjid ini mengalami kerusakan Berat dan tahun 1936 dilakukan renovasi besar dengan mendirikan bangunan yang lebih besar dan permanent. Pembangunan masjid ini selesai tahun 1940. Tahun 1942 terjadi musibah kebakaran disekitar masjid, namun masjid selamat dari amukan api. Pada waktu perang dunia ke dua tahun 1944 masjid ini menjadi sasaran bom sekutu, namun masjid ini tetap utuh dan selamat. Tahun 2004 masjid ini direnovasi dengan melakukn penggantian lantai masjid, atap, menara, dan juga kubah masjid, tanpa merubah bentuk aslinya.

 Mesjid Jami Ambon (2010)

Sumber: Direktori masjid Bersejarah Departemen Agama RI          
              Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Islam          
              Direktorat Urusan Agama Islam dan pembiaan Syari’ah          
              Jakarta tahun 2008
sampul buku
Baca Selanjutnyya >>